Manusia dan Harapan (IBD)
Setiap manusia mempunyai harapan. Manusia yang tanpa harapan berarti
manusia itu hati dalam hidup. Orang yang akan meninggal sekalipun
mempunyai harapan, biasanya berupa pesan-pesan kepada ahli warisnya.
Harapan bergantung pada pengetahuan, engalaman, lingkungan hidup dan
kemampuan masing-masing. Berhasil atau tidaknya suatu harapan
tergantung pada usaha orang yang mempunyai harapan. Harapan harus
berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada diri sendiri, maupun
kepercayaan kepada Tuhan yang maha esa. Agar harapan terwujud, maka
perlu usaha dengan sungguh-sungguh. Bila dibandingkan dengan
cita-cita, maka harapan mengandung pengertian tidak terlalu muluk,
sedangkan cita-cita pada umumnya perlu setinggi bintar. Antara harapan
dan cita-cita terdapat persamaan yaitu: keduanya menyangkut masa depan
karena belum terwujud, pada umumnya dengan cita-cita maupun harapan
orang menginginkan hal yang lebih baik atau meningkat. Menurut
kodratnya manusia itu adalah mahluk sosial. Setiap lahir ke dunia
langsung disambut dalam suatu pergaulan hidup, yakni ditengah suatu
keluarga dan anggota masyarakat lainnya. Ada dua hal yang mendorong
manusia hidup dalam pergaulan manusia lain yaitu dorongan kodrat dan
dorongan kebutuhan hidup. Menurut Maslow sesuai dengan kodrat dan
dorongan kebutuhan hidup itu maka manusia mempunyai harapan. Pada
hakekatnya harapan itu adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Sesuai dengan kodratnya harapan manusia atau kebutuhan
manusia itu adalah :
1. kelansungan hidup
2. keamanan
3. hak dan kewajiban mencintai dan dicintai
4. diakui lingkungan
Minggu, 27 Maret 2011
Manusia & Cinta Kasih
Menurut kamus umum bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwadarminta, cinta
adalah rasa suka atau rasa sayang, ataupun sangat kasih atau sangat
tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih artinya perasaan sayang atau
cinta kepada seseorang atau menaruh betas kasih. Maka dari itu arti
cinta dan kasih hampir bersamaan, sehingga kata kasih dapat memperkuat
rasa cinta.
Walaupun telah dikatakan bahwa cinta dan kasih memiliki arti yang
hampir sama, antara cinta dan kasih tentu memiliki perbedaan, salah
satunya adalah cinta merupakan perasaan yang amat mendalam sedangkan
kasih yang nyata dapat diwujudkan melalui rasa cinta tersebut.
Bentuk dari cinta kasih adalah memberi bukan menerima, maksud dari
memberi disini adalah memberi berbagai hal yang bersifat manusiawi
bukan materi. Misalnya, rasa tanggung jawab , kesetiaan, kejujuran,
perhatian, pengertian, dan yang paling penting adalah pengenalan.
Karena melalui pengenalan yang baik cinta kasih dapat berjalan dengan
baik pula.
Pengertian tentang cinta dikemukakan oleh Dr. Sarlito.W.Sarwono
Secara umum cinta memiliki 3 unsur yang amat penting yaitu,
keterikatan, kemesraan, dan keintiman. Secara umum pengertian
keterikatan dapat dikatakan sebagai adanya perasaan untuk seseorang
yang dicintai. Unsur ketiga yaitu kemesraan dapat diwujudkan dengan
perasaan kangen atau rindu, adanya perasaan untuk selalu bersama dan
saling menyayangi satu sama lain. Dan unsur yang terakir adalah
keintiman yaitu, sebuah perasaan yang mengatakan bahwa diantara satu
sama lain sudah tidak ada jarak lagi , ibaratnya “kamu dan aku adalah
satu”.
adalah rasa suka atau rasa sayang, ataupun sangat kasih atau sangat
tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih artinya perasaan sayang atau
cinta kepada seseorang atau menaruh betas kasih. Maka dari itu arti
cinta dan kasih hampir bersamaan, sehingga kata kasih dapat memperkuat
rasa cinta.
Walaupun telah dikatakan bahwa cinta dan kasih memiliki arti yang
hampir sama, antara cinta dan kasih tentu memiliki perbedaan, salah
satunya adalah cinta merupakan perasaan yang amat mendalam sedangkan
kasih yang nyata dapat diwujudkan melalui rasa cinta tersebut.
Bentuk dari cinta kasih adalah memberi bukan menerima, maksud dari
memberi disini adalah memberi berbagai hal yang bersifat manusiawi
bukan materi. Misalnya, rasa tanggung jawab , kesetiaan, kejujuran,
perhatian, pengertian, dan yang paling penting adalah pengenalan.
Karena melalui pengenalan yang baik cinta kasih dapat berjalan dengan
baik pula.
Pengertian tentang cinta dikemukakan oleh Dr. Sarlito.W.Sarwono
Secara umum cinta memiliki 3 unsur yang amat penting yaitu,
keterikatan, kemesraan, dan keintiman. Secara umum pengertian
keterikatan dapat dikatakan sebagai adanya perasaan untuk seseorang
yang dicintai. Unsur ketiga yaitu kemesraan dapat diwujudkan dengan
perasaan kangen atau rindu, adanya perasaan untuk selalu bersama dan
saling menyayangi satu sama lain. Dan unsur yang terakir adalah
keintiman yaitu, sebuah perasaan yang mengatakan bahwa diantara satu
sama lain sudah tidak ada jarak lagi , ibaratnya “kamu dan aku adalah
satu”.
ILMU BUDAYA DASAR lagi nih!!!
Kebudayaan adalah seperangkat peraturan yang dibuat oleh suatu
masyarakat tertentu, dan disetujui atau disepakati oleh masyarakat
tersebut sehingga menjadi ciri khas masyarakat tersebut. Kebudayaan
sangat erat hubungannya dengan masyarakat.
Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa
segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh
kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk
pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun
dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut
sebagai superorganic.
Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian
nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan
struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi
segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas
suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang
kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan,
kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain
yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah
sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Manusia dengan kebudayaan sangat erat kaitannya. Begitupun sebaliknya.
Manusia yang membuat kebudayaan. Dan hampir setiap tingkah laku
manusia itu adalah kebudayaan. Dalam sosiologi manusia dan kebudayaan
dinilai sebagai dwitunggal. Maksudnya adalah walaupun keduanya
berbeda, tetapi keduanya merupakan suatu kesatuan. Manusia menciptakan
kebudayaan, dan setelah kebudayaan itu tercipta maka kebudayaan
mengatur hidup manusia agar sesuai dengannya. Kebudayaan yang
digunakan manusia dalam menyelesaikan masalah-masalahnya bisa kita
sebut sebagai way of life, yang digunakan individu sebagai pedoman
dalam bertingkah laku.
Lalu hubungan antara manusia dengan kebudayaan juga dapat dilihat dari
kedudukan manusia tersebut terhadap kebudayaan. Manusia mempunyai
empat kedudukan terhadap kebudayaan yaitu:
1) Sebagai penganut kebudayaan,
2) Sebagai pembawa kebudayaan,
3) Sebagai manipulator kebudayaan,
4) Sebagai pencipta kebudayaan
Dari sisi lain, hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat
dipandang setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat
dinyatakan sebagai dialegtis, maksudnya adalah saling terkait satu
dengan yang lainnya. Proses dialegtis ini tercipta melalui tiga tahap,
yaitu:
1. Eksternalisasi, yaitu proses dimana manusia mengekspresikan
dirinya dengan membangun dunianya.
2. Obyektivasi, yaitu proses dimana manusia menjadi realitas
obyektif, yaitu suatu kenyataan yang terpisah dari manusia dan
berhadapan dengan manusia.
3. Internalisasi, yaitu proses dimana manusia sergap kembali oleh manusia.
Maksudnya bahwa manusia mempelajari kembali masyarakatnya sendiri agar
dia dapat hidup dengan baik, sehingga manusia menjadi kenyataan yang
dibentuk oleh masyarakat.
credit: http://psicozone.wp.com
masyarakat tertentu, dan disetujui atau disepakati oleh masyarakat
tersebut sehingga menjadi ciri khas masyarakat tersebut. Kebudayaan
sangat erat hubungannya dengan masyarakat.
Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa
segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh
kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk
pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun
dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut
sebagai superorganic.
Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian
nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan
struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi
segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas
suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang
kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan,
kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain
yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah
sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Manusia dengan kebudayaan sangat erat kaitannya. Begitupun sebaliknya.
Manusia yang membuat kebudayaan. Dan hampir setiap tingkah laku
manusia itu adalah kebudayaan. Dalam sosiologi manusia dan kebudayaan
dinilai sebagai dwitunggal. Maksudnya adalah walaupun keduanya
berbeda, tetapi keduanya merupakan suatu kesatuan. Manusia menciptakan
kebudayaan, dan setelah kebudayaan itu tercipta maka kebudayaan
mengatur hidup manusia agar sesuai dengannya. Kebudayaan yang
digunakan manusia dalam menyelesaikan masalah-masalahnya bisa kita
sebut sebagai way of life, yang digunakan individu sebagai pedoman
dalam bertingkah laku.
Lalu hubungan antara manusia dengan kebudayaan juga dapat dilihat dari
kedudukan manusia tersebut terhadap kebudayaan. Manusia mempunyai
empat kedudukan terhadap kebudayaan yaitu:
1) Sebagai penganut kebudayaan,
2) Sebagai pembawa kebudayaan,
3) Sebagai manipulator kebudayaan,
4) Sebagai pencipta kebudayaan
Dari sisi lain, hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat
dipandang setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat
dinyatakan sebagai dialegtis, maksudnya adalah saling terkait satu
dengan yang lainnya. Proses dialegtis ini tercipta melalui tiga tahap,
yaitu:
1. Eksternalisasi, yaitu proses dimana manusia mengekspresikan
dirinya dengan membangun dunianya.
2. Obyektivasi, yaitu proses dimana manusia menjadi realitas
obyektif, yaitu suatu kenyataan yang terpisah dari manusia dan
berhadapan dengan manusia.
3. Internalisasi, yaitu proses dimana manusia sergap kembali oleh manusia.
Maksudnya bahwa manusia mempelajari kembali masyarakatnya sendiri agar
dia dapat hidup dengan baik, sehingga manusia menjadi kenyataan yang
dibentuk oleh masyarakat.
credit: http://psicozone.wp.com
Langganan:
Postingan (Atom)